Friday, March 6, 2009

Sebuah Pencerahan Datang


two person that give me a lotta inspiration
-for now-


I feel so no use –actually- after watching this Japan’s film, Nodame Cantabile. Ceritanya tentang seorang siswi yang ‘ajaib’ kelas piano di akademi musik klasik bernama Noda Megumi –permainan pianonya berantakan, tapi tak ada kesalahan malah cenderung ditambah variasi- Juga cerita tentang seniornya di akademi musik, Shinichi Chiaki –seorang jenius permainan piano, biola, konduktor juga, cakep, kaya, sungguh-sungguh ketika mengerjakan apapun, kereeen pokoknya. Almost all of its part gives me a wise notice of life. I just wanna share it episode by episode.

Ada satu adegan dimana Nodame bermain piano dengan kekhasan tersendiri dengan hanya mendengarkan berulang-ulang, tidak melihat partitur, yang juga akhirnya berjalan sesuai yang seharusnya. Disini Nodame punya warna. Setiap orang memang diciptakan untuk bebeda. Jadi, tidak ada salahnya untuk jadi berbeda. Toh memang kita diciptakan berbeda, ya to?
Adegan lain, ada tokoh ‘Mine’–teman Nodame dari kelas biola. Ia berusaha sungguh2 waktu menyelesaikan tugas dan menghadapi ujian, walau hanya ujian yang tarafnya kecil. Mine mencerminkan orang Jepang kebanyakan. Selalu bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu. Peribahasanya, wis kebacut nyelup ya gebyur sisan. Maksudnya, si Mine sudah memutuskan untuk masuk ke akademi musik, jadi ya harus belajar benar-benar disitu. Sukoi. . .
Nodame kalau mandi 2 hari sekali dan keramas 3 hari sekali, kamar selalu berantakan dan penuh dengan sampah. Ooh, kusai. . . Yah, untuk yang ini saya benar merasa tersindir, Sodara. Ternyata kalau kamarnya bersih lebih enak dilihat mata dan lebih menyenangkan kelihatannya. Seperti kamarnya tokoh ‘Chiaki’ –si jenius itu. Bersih, rapi, simple, but elegan.
Di film ini pun menceritakan bagaimana seorang Chiaki itu dalam hidupnya. Serasa dia tu beruntung banget. Namun, menurut saya, dia ada usaha sebelumnya yang akhirnya ditukar Tuhan dengan keberuntungan2 itu. dengan kata lain, harus pinter dulu, dengan begitu, semua keinginan bakal datang sndiri. Apikno awakmu, ngko opo2 kang becik bakal moro dhewe2.
Chiaki juga orang yang benar2 menghargai impiannya waktu kecil. Meski impiannya terkesan mustahil, tapi ia tidak menyerah. Sama sekali. Walau terkadang, yang namanya manusia pernah up, pernah juga down. Yang pasti akhirnya ia bisa mencapai impiannya itu. tentu dengan menjalani proses yang tidak mudah dilalui.
Benar2 menghargai makanan,, haauuuuuuuuuunn. . .=nodame+sakura. Sakura –teman Nodame yang sebenarnya kaya tapi miskin, tapi akhir cerita, ia kaya lagi. Adegannya, ketika makan siang yang Nodame dapat dari mengambil diam2 bekal makan temannya yang lain, terjatuh.. kotor, gak layak dimakan deh. Tapi, sama si Sakura dimakan. Saking laparnya dia. Ck,ck,ck, menghargai makanan benar. Salut. . . Dia juga 'bagai' kerja sambilan demi sekolah. . mengejar impian. . .-sebegitunya-
Chiaki tahu benar bagaimana menikmati suasana, musik, ketenangan.
Mine menyelidiki satu per satu dengan teliti apa yang salah pada suatu hal yang terlihat janggal terjadi.
Kepolosan Nodame yang pada akhirnya disukai banyak orang. Dia juga berani menerima tantangan, apapun itu.
Bahkan saya mendapat pelajaran dari tokoh yang menurut saya antagonis, Saiko –siswi vocal, suka dengan Chiaki (dulunya) yaitu jangan nge-judge seseorang ketika sekarang jelek maka seterusnya jelek, enggak, tapi setiap orang punya kesempatan yang sama, siapa tau ia bisa berubah lebih baik bahkan dari orang terbaik yang ada sekarang.
Jadi keren dengan being centre of interest. Hm, Chiaki bangeet. .
Mencoba memahami dan mengerti keadaan sekitar, bahkan hal-hal yang kelihatannya kurang penting sekalipun. Adegan ketika Chiaki menjadi konduktor.
Nodame bilang : suki-des. . . benar2 mberi perhatian yang terbaik untuk yan ter-suki-des. Kalau saya malah cencerung tambah cuek:p
Nodame selalu jujur terhadap perasaan, mengungkapkan apa yang ada di hati. Yang penting apa adanya daripada bukan jadi diri sendiri. Bukan orang Solo banget yak.
Nodame yang selalu semangat supaya jadi hebat. . sukoi, shiotaki-shiotaki ^^
Pemenang adalah yang berani mencoba hal yang baru, gak kaya kebiasaan orang: Filosofi si pemain timpani.
Chiaki senpai yang mencoba mengerti orang lain, every part sangat penting, 1 anggota gak ada harus diperhatikan, misal: adegan ketika sakura tidak datang latihan karena sesuatu.
Terbuka ajah-kenapa juga harus ditutup2i; Chiaki senpai kecewa dengan diri sendri tapi tetep kekeuh dengan keras kepalanya. Nah, yang ini kurang baik ya Sodara. .
Hal yang menurutmu paling gak penting sekalipun pasti someday bisa jadi sangat berharga –seperti bento kadaluarsa Sakura. Coba bayangkan kemiskinan klu mo hambur2 duit.
Memanfaatkan semua hal yang dipunya secara maximal, puool. . .
Harus mengerti bagaimana perasaan orang lain, bagaimana juga orang lain akan bertindak. Seperti waktu adegan : Sakura memilih kontrabass daripada pilihan ayahnya yang kalap memilih biola.
Berlatih keras dimana dan kapan pun kesempatan itu dating. Di adegan Sakura latihan contrabass, benar-benar mengagumkan.
Gak usa liat sapa narasumbernya, bahkan narasumber yang sekiranya ‘ra mutu’ sekalipun dapat jadi narasumber ketika kita sedang belajar tentang kebaikan. Misalnya Milch atu Franz Stresemann.
Jangan abaikan seseorang yang ada dibelakangmu. membackingi selalu, walau kelihatan gak penting sama sekali, bahkan kadang kita merasa bosan dan terganggu karenanya, tapi ternyata akan bisa kehilangan kalau dia menghilang. Pas dengan penggambaran persepsi chiaki terhadap nodame.
Hal yang baru/yang pertama ini mah cuek aja.. orang masi permulaan kog. Ditampilin sesuatu yang beda aja yang kita banget lah pokoknya. Seperti waktu orkes S-oke pertama.
Setiap occasion pasti ada sesuatu hal yang bisa di garis bawahi. . . pasti da sesuatu yang menarik lah. . .
Buanyak juga ya?
Semoga yang baca juga dapat pencerahan seperti saya –He.
Ganbatte Kudasai!!!

2 comments: